FA Brian

Sharing, maybe this blog can help and inspire you #7billionDollar

Tuesday, 19 September 2017

Sunday, 2 July 2017

Hutan Beton

23:35


Jakarta, tempat hutan-hutan beton berada, kami sebagai "korban" kapitalisme kehidupan mencari makan. Tidak lain dan tidak kurang, kami berada pada level yang berbeda ketika berada di hutan beton. Ada yang memiliki modal yang tinggi untuk sampai kesini, modal pemikiran, modal uang, dan modal keberuntungan.

Setiap hari bekerja, untuk mendapatkan lembaran kertas bernama Rupiah, mencukupi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Kata orang "orang yang makin kaya akan semakin kaya" sedangkan yang tidak akan berada pada level itu, itulah sistem kapitalisme.

Setiap hari memiliki kesusahan tersendiri, kesusahan yang diciptakan dari diri sendiri maupun dari luar. Setiap individu memiliki ambisi dalam mengejar "tempat" paling tinggi di Hutan Beton, mereka yang memiliki modal yang tinggi tidak usah pikir pusing, sedangkan mereka yang memiliki modal rendah masih harus berusaha untuk melewati level yang mereka capai.

Hutan beton, tak lepas dari kapitalisme, Hutan yang selalu ramai dengan "semut" kemacetan.

Hal yang membuat hari ini ingin menulis adalah, suatu kotbah dari Romo di Gereja Theresia, Dia mengatakan bahwa :

"Tuhan tidak menjanjikan kita kenyamanan",

Kadang kita berdoa di Hutan beton ini untuk mendapatkan kenyamanan, namun hal itu bertolak belakang dengan perkataan Romo. Hal ini menyadarkan saya, bahwa nilai spiritual bukan untuk mendapatkan kenyamanan, melainkan menikmati hari demi hari .


Enjoy the life, enjoy the 'Show'

23:14


Seperti garam, apabila makanan kekurangan garam rasanya juga tak enak, apalagi kelebihan, sesungguhnya yang paling enak adalah takaran yang Pas.

Seperti sebuah sepatu, apabila sepatu tersebut terlalu besar, atau terlalu kecil membuat kaki tidak merasa nyaman. sesungguhnya yang paling enak adalah takaran yang Pas.

Hidup ini, manusia hidup dalam kapitalisme, hanya penguasa dan kolega-koleganya yang dapat menikmati dunia ini. Lantas bagi mereka yang bekerja untuk mereka, apa yang bisa kita lakukan?

hanya kata PAS..., hidup ini juga tidak akan terkejar, hidup dalam keinginan duniawi, apakah menjadi hidup yang bahagia? atau hidup dalam sesuatu yang Pas merupakan jalan hidup.

Sunday, 26 March 2017

I find again...

19:54



Sabtu sore, saat hujan turun, melihat awan yang sedang sendu, udara yang dingin menemani, tak hanya saya yang kedinginan tetapi  dengan pasangan. Alunan lagu "sampai menjadi debu" menemani kami...,


Melihat tatapan mata seorang wanita, melihat harapannya, melihat cita-citanya, melihat masa depan membuat hati terasa semangat, mata itu adalah mata pasangan. Mata yang baru saya sadari, mata yang begitu indah, mencerminkan semua apa harapannya kepada saya, untuk tetap setia dan menjadi lebih dewasa.


Sore itu, saya merasa menjadi lebih dewasa. Wanita yang saya tidak  kecewakan, semasa hidupnya... Ni Made Wili Septiarini


Hari ini, sayapun harus kembali ke Jakarta, melihat orang yang saya sayangi menangis..., yang sebelumya tak pernah menangis dihadapan saya, yaitu adik saya Rio, dan tentunya pasangan saya yang saya ditinggalkan ikut meneteskan air mata. 

Meninggalkan Salatiga, ada salam dan perpisahan, berpisah dengan orang tua yang saya sayangi, yang selalu memberikan apa yang anaknya butuhkan, kini saatnya saya kembali ke Jakarta untuk menggantikan mereka mencari nafkah, dan menghidupi keluarga.



Mimpi yang pernah saya tulis di blog ini, kembali hidup kembali, saatnya bangun dari mimpi dan membuat itu menjadi nyata serasa ada pencapaian dan tujuan yang harus saya capai, terimakasih buat orang-orang terdekat...

The ones who make you happy is family 

Saturday, 18 March 2017

Startup Life vol 2

00:27
Udara yang dingin, pukul 12.17 pagi, di kota Malang. 

Hidup ini tidak sempurna, lantas mengapa kita menuntut untuk sempurna. Apakah air yang mengalir akan terpaksa mengalir dengan sendirinya, ataukah sebuah mawar akan menjadi sebuah bunga? 

Hidup ini sungguh indah, apabila bersyukur dengan apa yang dimiliki. Malam di  Malang, bersama dengan suara jangkrik dan bintang-bintang yang menyapa dari langit. Rindu akan seorang pasangan yang selalu saya tuntut, pastinya akan menjadi sebuah duri bagi dirinya bila mawar yang dia petik adalah seuai dengan tuntutan saya. Menyadari, untuk melepaskan duri itu, membiarkannya bebas, duri iu akan lepas dengan sendirinya, lepas untuk membiarkannya sesuai dengan yang diharapkannya, tak ada kekangan dan tuntutan hidup. Biarkan dia bebas...

Ahh, menuntut orang lain, mengurusi diri sendiri dulu saja, ibarat menjadi sebuah gembala mengurusi gembala-gembalanya, dan bukan mengurusi sebuah pohon. Ingat sebuah kehidupan tak pernah berakhir.

Malang, tempat aku sendiri mengerti diri sendiri, 

Mimpi 7 juta dollar terus berlanjut, membiarkan semua cibiran....