Deg! Aku tersentak. Nafasku tak beraturan. Keringat mengucur dari keningku. Kulirik jam di sebelah tempat tidurku. Pukul 04.30. Aneh, tak biasanya aku bangun sepagi ini. Kepalaku berat. Mataku masih susah untuk dibuka. Ingin rasanya aku tinggal di tempat tidur. Tapi entah mengapa hatiku berkata lain. Dengan sisa tenaga yang ada aku bangkit dan berjalan menuju dapur.
            Segelas susu coklat dan roti bakar hangat kini ada di depanku. Dengan malas aku menyalakan televisi. Tak ada acara yang menarik. Kuputuskan untuk mematikan televisi dan menikmati roti bakar. Pandanganku tertuju pada sebuah foto di atas televisi. Fotoku  dan Raymond, adikku yang paling kusayangi. Pikiranku melayang ke-15 tahun yang lalu.
            “Ma, kapan adik kecil ini lahir?” tanyaku penasaran saat mama sedang memasak.
            “Hmm,, sekitar 3 bulan lagi sayang, memang kenapa?” jawab Mama sambil mengangkat ayam goreng dari wajan.
            “Laras sudah tidak sabar untuk melihatnya. Kira-kira tiga bulan itu lama nggak?” tanyaku tak sabar.
            “Tiga bulan itu sebentar kok. Kamu tak perlu khawatir sayang.” Mama mencubit pipiku gemas. Aku merengut. Berharap yang dikatakan mama itu benar.
            Sudah tiga tahun Raymond menemaniku. Berjalan melewati hari-hari yang berat. Entah kenapa, walaupun Raymond tidak seperti anak-anak lainnya, aku sangat menyayanginya, bahkan, bisa dibilang rasa sayangku semakin bertambah setiap harinya.
            “Raymond, ayo makan sama Kakak.” Ajakku pada Raymond yang masih asik bermain lego.
            “Raymond, kamu dengar Kakak nggak sih? Ayo makan.” Kuulangi lagi sambil berjalan mendekati Raymond. Raymond hanya memandangku sekilas dan melanjutkan permainannya. Aku menghela nafas. Ya, inilah Raymond, anak yang sangat istimewa, walaupun orang lain menganggapnya sebagai kekurangan, tapi bagiku, dia adalah adikku yang paling sempurna. Aku mengambil lego yang dipegang Raymond, “Berhenti bermain, dan makan!” Tegasku sambil menarik Raymond bangkit dari tempat duduknya.
***
            “Laras, ingat janji kita dengan Ibu Panti Asuhan hari ini kan?” Tanya Nea di telpon. Aku melirik jam di dinding. Pukul 07.00. “Ya, aku ingat. Jam sepuluh kan?” jawabku malas.
            “Iya. Sebaiknya kamu mandi sekarang Laras. Aku yakin kamu tadi malam tidak bisa tidur kan? Dan aku berani bertaruh kalau kantong matamu pasti sangat hitam.” Nea cekikikan.
            “Ah, kau memang sahabat yang luar biasa Nea.” Kataku sambil menatap rupaku yang sangat berantakan di depan cermin. “Sepertinya aku harus mengurus kantong mata ini secepatnya. Tidak mungkin aku keluar rumah dengan wajah seperti ini.” Lanjutku.
            “Dan aku tidak akan menjemput orang yang selalu membawa kantong belanjaan ke mana-mana.” Aku tertawa. Nea memang memiliki selera humor yang sangat bagus. Paling tidak, kotak tertawaku bisa digunakan dengan baik.
***
            Nea masih mengoceh tentang konsep acara pesta amal yang akan diadakan fakultas kami, fakultas Psikologi. Sementara aku, menatap rintik-rintik hujan dari balik kaca mobil. Aku berharap hujan ini segera reda. Udara yang dingin ditambah dengan jalanan yang macet membuatku merasa mengantuk. Aku memejamkan mata. Berharap bisa tidur sebentar untuk menggantikan malam yang suram. Deru AC yang keras membuatku semakin merapatkan jaket yang kukenakan. Aku berharap ocehan Nea bisa mengantarkanku tidur. Bayangan-bayangan masa lalu seakan diputar kembali di kepalaku dan membuatku semakin larut.
            “Laras, Raymond ada di mana? Papa tidak melihatnya di kamar.” Kata Papa dari balik pintu. Aku melangkah membuka pintu kamar. Terlihat dari mata Papa kalau beliau sangat khawatir. “Tadi sih, aku sudah menyuruhnya tidur siang, Pa. Tapi, aku tidak tahu sekarang dia di mana. Papa sudah coba tanya Mama?” Jawabku ikut cemas.
            Papa menghela nafas, “Kamu tidak salah menyuruh Papa bertanya pada Mama? Menyuruh Raymond makan saja dia tidak mau.”
            Aku terdiam. Begitulah Mama. Semenjak Mama tahu kalau Raymond tidak seperti anak-anak pada umumnya, Mama tidak mau mengakui Raymond sebagai anaknya. Mama selalu mengacuhkan Raymond dan tidak menganggap Raymond ada. Akhirnya, Papa mempercayakan Raymond padaku dan Mbak Siti.
            “Ya sudah, Pa. Biar aku dan Mbak Siti saja yang mencari Raymond. Papa tidak perlu terlalu khawatir gitu.” Aku menenangkan Papa.
            “Tapi Laras, Papa merasa sangat bersalah pada adikmu. Seharusnya Papa selalu ada untuk dia setiap hari. Menemaninya, memotivasinya. Tapi apa yang bisa Papa lakukan? Hanya bekerja dan bekerja.” Papa frustasi.
            “Sudahlah Pa, tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Yang Papa lakukan kan juga untuk kebaikan Raymond. Aku akan mencari Raymond dulu.”
            Aku dan Mbak Siti sudah mengelilingi rumah sebanyak dua kali tapi tidak menemukan Raymond. Aku merasa cemas. Di luar sedang hujan lebat. Apakah mungkin Raymond masih berada di luar?
            “Mbak, gimana kalau kita cari di luar saja. Siapa tahu Mas Raymond masih main di luar.” Kata Mbak Siti. Aku diam. Mungkin ada baiknya aku mencari Raymond di luar. Siapa tahu dia memang masih bermain di luar. Walaupun aku tahu kalau kemungkinannya sangat kecil. “Ya sudah Mbak, ayo cari di luar.” Ajakku.
            Aku berkeliling kompleks sambil memanggil-manggil Raymond. Badanku basah kuyup. Padahal aku sudah memakai payung yang paling besar. Aku berjalan mendekati lapangan yang biasa digunakan anak-anak kompleks untuk bermain bola. Mataku tertuju pada seseorang yang sedang membawa bola dan berdiri mematung di sana tanpa memakai payung. Jantungku seakan berhenti berdetak. Raymond.
“Raymond!!” Aku berteriak dan mendekati Raymond.
            “Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tahu ini hujan nggak? Kenapa kamu nggak bilang sama Kakak kalau mau main?” Bentakku pada Raymond sambil memayunginya. Raymond hanya menatapku sebentar dan kembali menatap lapangan sambil memeluk bolanya.
            “Jawab Kakak Raymond. Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyaku tak sabar sambil menahan tangis. Raymond hanya menatap lapangan dan menunjuk lapangan dengan telunjuknya. Seketika itu tangisku pecah. Perasaanku benar-benar terkikis. Aku merasa berdosa, aku merasa bersalah. Aku tahu Raymond sangat senang bermain sepak bola. Aku tahu juga kalau diam-diam Raymond sering memandang anak-anak yang lewat di depan rumah dengan tatapan penuh keinginan. Dan akhirnya, aku juga yang melarangnya ikut bermain dengan anak-anak lainnya karena aku takut Raymond terluka perasaannya. Raymond memang berbeda, tapi perasaannya sama dengan orang-orang pada umumnya.
            “Maafkan Kakak. Kakak yang salah, Kakak seharusnya tidak melarangmu. Besok Kakak akan menemanimu bermain bola sampai puas.” Aku menangis dan memeluk Raymond. Aku tahu dia ingin sekali bisa bermain dengan anak-anak lain. Dan itulah sebabnya dia di sini. Menunggu teman-temannya sampai mereka mau mengajaknya bermain.
            “Sekarang kita pulang ya? Besok kita ke sini lagi dan bermain.” Aku menggandeng Raymond pulang tapi Raymond bersikukuh untuk tetap tinggal di lapangan. Aku menghela nafas “Raymond, lihat Kakak. Kakak janji, besok akan menemanimu bermain bola. Oke?” aku membuat tanda “suer” untuk meyakinkan Raymond. Raymond menatapku tegas. Aku tahu dia menantangku untuk menepati janji yang kubuat sendiri. “I promise.” Kalimat yang selalu aku ucapkan untuk meyakinkan Raymond.
***
            “Laras, bangun dong, jangan tidur terus. Bantuin kek. Aku repot banget nih.” Suara cempreng Nea membangunkanku. Tak terasa sudah satu jam aku tertidur. Aku menggeliat, mencoba mengumpulkan nyawa yang hilang entah ke mana.
            “Larasss!!!! Mau sampai kapan kamu tidur? Di sini ramai. Ayo dong bantuin aku.” Nea mengomel. Aku membuka pintu mobil dan langsung disambut dengan angin semilir khas pegunungan. Aku menarik nafas. Aku selalu rindu dengan hawa sejuk pegunungan seperti saat ini. Tidak salah Nea memilih Panti Asuhan ini sebagai tempat pesta amal yang akan dilaksanakan dua bulan lagi.
            “Selamat datang kembali Kakak cantik.” Suara anak kecil membuyarkan lamunanku.
            “Oh, hai Septhia. Bagaimana kabarmu selama ini?” aku menyalami anak itu. Kecil, lucu, dan manis. Setiap bertemu dengannya aku selalu merasakan adanya suatu energi positif yang terpancar dari mata bulatnya.

            “Luar biasa. Oh ya Kak, aku punya sesuatu buat Kakak. Aku bikin sendiri lho. “ Septhia mengeluarkan secarik kertas bergambar dari tasnya. Gambar seorang anak kecil yang digandeng Kakaknya berjalan menuju rumah kecil di dekat gunung. Ada gambar hati di antara kedua tangan mereka. Di pojok kanan bawah terlulis “Septhia sayang Kak Laras”. Aku tidak dapat menahan tangisku, bayangan-bayangan Raymond kecil berputar-putar di kepalaku. Raymond, aku rindu dengannya. Aku kangen dia. Aku, ingin bertemu dengannya.
            “Raymond!!! Jangan berisik. Kakak besok ada ujian.” Teriakku frustasi dari balik kamar. Besok ada ujian matematika dan aku paling lemah dalam soal menghitung. “Raymond, kamu dengar Kakak nggak sih? Berhenti berisik.” Raymond tetap asyik dengan bolanya. Suara  pantulan bola Raymond makin membuatku kesal.
            “Raymond, berhenti bikin ulah.” Aku keluar dari kamar dan merampas bola dari tangan Raymond. Raymond memandangku sebentar dan berkata “Kakak, berisik!” Aku tercengang. Darimana dia belajar kata-kata itu. Raymond tidak seperti anak kebanyakan. Dia belum bisa berbicara saat anak lain sudah mulai bisa memanggil namanya. Dia hanya mampu berbicara “Kakak, lapar” saat anak-anak lain mulai mengoceh dengan riangnya. Raymond lebih memilih diam dan asyik dengan dunianya. Kadang dia hanya menunjuk dengan telunjuknya untuk menggambarkan apa yang dia inginkan.
            Aku masih tertegun menatap kepergian Raymond. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Aku memutuskan untuk melanjutkan belajar. Mungkin Raymond banyak belajar dari acara televisi.
            Tok, tok, tok. Siapa lagi yang menganggu ketenangan belajarku ini. Aku tak habis pikir, mengapa nasib baik tidak berpihak padaku. Kepalaku pusing, Raymond yang mengangguku belajar, ditambah orang yang tidak jelas sekarang. Aku menghela nafas. Aku berjalan membuka pintu. Raymond.
“Apa yang kamu lakukan di sini. Bukankah kakak sudah bilang untuk berhenti mengganggu kakak?” aku membentak Raymond.
Raymond hanya menatapku sejenak dan menyodorkan secarik kertas sambil tersenyum. Aku melongo, Raymond berjalan meninggalkanku tanpa sepatah kata. Aku memandangi kertas yang diberikan Raymond. Huruf-huruf yang tak beraturan tercetak di atasnya. Crayon dengan berbagai warna menghiasi sisi-sisi kosong pada kertas itu.
“RAy, sAYanG KaKAk! jAnGAN maRAh yAA” Aku tertegun. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku tidak pernah mengajarkan Raymond menulis, begitu pula Papa. Lalu, siapa yang mengajarinya? Mbak Siti! Aku berlari ke ruang TV di mana Raymond sedang asyik dengan mobil-mobilannya. Aku memeluknya dan berkata “Raymond, makasih ya. Kamu memang adik kakak yang luar biasa. Terima kasih.” Aku memeluknya dengan erat. Air mata mengalir dari pelupuk mataku. Inilah adikku, bagaimanapun dia, dia tetap adik terbaik yang Tuhan berikan untukku.
            “Makasih Septhia gambarnya. Kakak suka sekali dengan gambarnya.” Aku memeluk Septhia erat sambil mengusap air mata.
***
            Aku menunggu Papa di depan lobby rumah sakit. Seplastik apel dan jeruk ada di tangan kananku, sementara segenggam bunga mawar putih di tangan kiriku. Sudah setengah jam aku menunggu Papa, tapi beliau tidak datang menjemputku.
            “Maaf sayang, kamu pasti lama ya nunggu Papa?” Papa datang dengan tergopoh-gopoh dan mencium keningku.
            “Bagaimana dengan kamarnya? Bagus? Nyaman?” Tanyaku dingin.
            “Hmm,, kamu perlu melihatnya sendiri sayang. Kalau Mama saja suka dengan kamarnya, apalagi Kamu.” Papa menggandengku masuk ke dalam rumah sakit. Aku tersenyum pahit. Kenangan pahit masa lalu tiba-tiba terlintas di pikiranku.
            “Ma, Laras sudah sampai nih!” Kataku sambil membuka pintu rumah. Aku baru saja pulang dari berkemah selama tiga hari. Terkunci. Aku heran, tidak biasanya Mama mengunci pintu rumah. Aku berjalan menuju pintu belakang. Siapa tahu tidak terkunci.
            “Ma, Ray, Laras sudah pulang nih!” Aku masuk ke dalam rumah. Sepi, senyap, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku berjalan perlahan menuju dapur. Tidak ada siapa-siapa. Aneh. Memang selama tiga hari ini Mama sendirian di rumah, hanya ditemani Raymond. Sudah seminggu Papa tidak di rumah. Mengurus usaha makanan yang ingin Papa geluti. Sedangkan Mbak. Siti, saat ini sedang mengurus anaknya yang sakit di kampungnya. Sebenarnya aku berat meninggalkan Mama dan Raymond di rumah. Tapi, kemah ini tidak bisa ditinggalkan. Aku terus berjalan sampai akhirnya aku melihat noda merah mengalir dari pintu kamar mandi.
            “RAYMOND!!! Tuhanku!!!” Aku menangis. Aku berlari mendekati Raymond. Darah mengucur dari tangan dan lehernya. Matanya nanar menatapku. Aku mengecek denyut nadinya. Nihil. Aku menjerit. Aku memanggil mama. Aku berteriak memanggil mama dan mencarinya ke seluruh ruangan.
            “Mama, Raymond kenapa?” Kataku saat melihat Mama duduk di depan televisi. Mama hanya diam saja dan menatap televisi.
            “Ma, Raymond kenapa?” Aku mengulang pertanyaan. Mama tetap saja diam. Pandanganku berhenti pada pisau penuh darah di samping Mama. “Ma, jangan bilang kalau mama yang melakukannya.” Aku menangis memeluk Mama. Terasa air mata Mama menetes di kepalaku. Aku makin erat memeluk Mama.
            “Raymond, bikin susah Mama. Mama bunuh dia. Mama benci dia. Benci!” Mama melepasakan pelukanku dengan kasar. Aku terkejut. Aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Mama. Aku berjalan mundur menjauhi Mama.
            “HUAHAHAHAHAHA!!!! HAHAHAHAHA!!! Mati juga anak itu. Hahahaha… aku bisa membunuhnya ternyata.” Mama mulai merancau. Aku melongo, tak percaya dengan apa yang terjadi. Tangisku semakin keras. Aku benar-benar tak percaya. Aku berlari meninggalkan Mama sementara tawa Mama semakin keras terdengar telingaku.
            Sebuah kamar yang menghadap taman. Taman yang asri. Taman yang indah. Terlihat Mama sedang duduk di depan kamar sambil tertawa-tawa sendirian. Aku memandang Mama dengan nanar. Tidak ada perubahan apapun pada Mama sampai saat ini. Papa menghela nafas dan menggandengku dengan erat. Memastikan aku cukup kuat untuk bertemu dengan Mama. Aku berusaha menguatkan diri. Dua tahun sudah aku tidak bertemu Mama. Rasa benci yang tersisa masih melekat kuat di hati.
            “Ma, apa kabar? Baik kan? Mama masih ingat dengan Laras kan?” suaraku bergetar menahan tangis dan benci. Mama diam saja tanpa menatapku.
            “Ma, ini Laras bawakan buah kesukaan Mama. Ada apel dan jeruk. Laras juga bawakan bunga kesukaan Mama.” Aku sesenggukan. Mama masih menatap taman dengan tatapan kosong. Seolah tidak mendengarku. Tangisku makin keras terdengar. Sikap Mama yang demikian membuatku teringat kejadian tiga tahun yang lalu.
            Sudah dua hari aku pergi dari rumah. Papa tidak tahu kalau aku kabur. Aku hanya memberi pesan pada Papa lewat e-mail yang menyatakan kalau Mama sakit. Aku tidak menceritakan pada Papa tentang apa yang dialami Raymond. Di sinilah aku sekarang, di Panti Asuhan di mana aku bisa menenangkan diri. Kejadian kemarin membuat kebencianku pada Mama semakin bertambah. Selama sepuluh tahun aku mencoba menerima semua sikap Mama yang ditujukan pada Raymond. Tapi sekarang aku tidak bisa mentolerirnya lagi. Sikap Mama benar-benar keterlaluan. Ditambah lagi,,,,,,, Ah… aku tak bisa mengungkapkan betapa bencinya aku pada Mama.
            “Ada apa Pa? Kalau Papa mencoba meminta Laras pulang, Laras tidak bisa. Laras terlalu sakit.” Kataku di telpon.
            “Laras, Papa tahu kamu sangat kecewa pada Mama…”
            “Laras nggak cuma kecewa Pa. Laras benci sama Mama!” potongku.
            Aku mendengar helaan panjang nafas Papa. “Papa juga merasakan hal yang sama Laras. Ingin rasanya Papa menjerit, berteriak, memaki-maki Mamamu.” Papa mengungapkan isi hatinya. Aku terdiam. Tidak hanya aku yang merasakan hal itu ternyata.
            “Laras, Papa mohon. Kalau kamu memang tidak mau memaafkan Mama, itu tidak jadi masalah. Yang papa minta cuma satu. Pulanglah.” Papa memohon. “Besok Raymond akan dimakamkan, apa kamu tidak mau melihat jazad adikmu dimakamkan?” Lanjutnya.
            Aku terdiam. Air mata mengalir membasahi pipiku. Satu-satunya alasanku untuk kembali ke rumah hanya Raymond. Adik yang sangat kusayangi.
            “Baik Pa. Tapi jangan mencoba meminta Laras untuk memaafkan Mama.”
            Aku mengupas buah apel. Buah ini adalah buah kesukaan Mama. Semenjak kecil Mama selalu tergila-gila dengan apel. Bahkan, setelah aku lahir, Mama dengan rajin menyuapiku dengan apel. Mama selalu beranggapan kalau apel akan membuat pipiku merah merona.
            Mama masih tetap asyik dengan dunianya. Bergumam tentang sesuatu yang tidak jelas sambil tertawa cekikikan memandang taman di depannya. Aku menghela nafas. Ingin rasanya aku marah pada Mama tentang apa yang terjadi di masa lalu. Tapi itu tak mungkin. Mama tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Lagipula, percuma saja aku marah, itu tidak akan mengubah apapun. Itu tidak akan membuat Raymond kembali. Itu tidak akan membuat Raymond kembali kepadaku.



Ketika cinta menjadi penguat dalam kesesakan.
Salatiga, 17 November 2011
Veronica Widya Tri Rahayu XII IA6