Sharing, maybe this blog can help and inspire you #7billionDollar

Showing posts with label MOTIVASI. Show all posts
Showing posts with label MOTIVASI. Show all posts

Sunday, 23 September 2012

25 ULTIMATE TIPS FOR BETTER LIFE!!!

19:23

1. Take a 10-30 minute walk every day. & while you walk, SMILE.
It is the ultimate antidepressant.

2. Sit in silence for at least 10 minutes each day.

3. When you wake up in the morning, Pray to ask God's guidance for your purpose, today.

4. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.

5. Drink green tea and plenty of water. Eat blueberries, broccoli, and almonds.

6. Try to make at least three people smile each day.

7. Don't waste your precious energy on gossip, energy vampires, issues of the past, negative thoughts or things you cannot control.
Instead invest your energy in the positive present moment.

8. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a college kid with a maxed out charge card.

9. Life isn't fair, but it's still good.

10. Life is too short to waste time hating anyone. Forgive them for everything !

11. Don't take yourself so seriously. No one else does.

12.You don't have to win every argument. Agree to disagree.

13. Make peace with your past so it won't spoil the present.

14. Don't compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.

15. No one is in charge of your happiness except you.

16. Frame every so-called disaster with these words: 'In five years, will this matter?'

17. Help the needy,Be generous ! Be a 'Giver' not a 'Taker'

18. What other people think of you is none of your business.

19. Time heals everything.

20. However good or bad a situation is, it will change.

21. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.

22. Envy is a waste of time. You already have all you need.

23. Each night before you go to bed ,Pray to God and Be thankful for what you'll accomplish, today !

24. Remember that you are too blessed to be stressed.

25.Fwd this to everyone on your list to help them lead a happier life..

Sunday, 22 July 2012

Wajib Dibaca :D

22:18



1. Doa bukanlah "ban serep" yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi "kemudi" yang menunjukkan arah yang tepat.

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil?
Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita.
Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.

4. Semua hal dalam hidup adalah sementara.
Jika berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya.
Jika berlangsung salah, jangan khawatir, karena juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas!
Teman baru adalah berlian!
Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata " Tenang sayang, itu hanyalah belokan, bukan akhir!

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.

8. Seorang buta bertanya pada Tuhan : "Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?"
Tuhan menjawab : "Ya ada!, kehilangan visimu dan kepesimisan yg ada di diri seseorang!!"

9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika kamu aman dan happy, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu.

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini.

Thursday, 19 July 2012

Si Penjual Susu Keliling

22:17
T__T, jadi menyadari hidup ini, Apakah anda orang Salatiga  mengenal orang ini ?



Lelaki tua bermuka Tionghoa itu biasa terlihat berjalan sambil menarik gerobaknya dengan satu tangan. Ia berjalan lambat karena sebelah kakinya pincang. Penyakit yang sudah ia derita sejak lahir.
Fran Brotoseno bekerja sebagai penjual susu segar keliling. Ia menjajakan susu hampir ke seluruh sudut kota Salatiga dengan berjalan kaki sambil menarik gerobaknya yang kecil. Bagi beberapa orang di Salatiga, sosoknya mungkin tidak asing.
Fran lahir di Semarang pada 28 Desember 1945, tetapi akte kelahiran menyebut Salatiga sebagai tempat kelahirannya. Orangtuanya sengaja menulis demikian karena Fran dan seluruh keluarganya pindah ke Salatiga sejak Fran masih kecil. Fran enggan menyebutkan nama bapak dan ibunya. Nama Brotoseno diambil dari nama tempat kerja bapaknya dulu: Pabrik Tekstil Brotoseno di Semarang.
Awalnya Fran dan keluarga tinggal di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan bekas Hotel Plaza Salatiga yang sekarang menjadi sebuah toko pakaian. Dulu tempat itu mereka gunakan untuk berjualan wedang ronde. Bapak dan ibunya berjualan di sana dari tahun 1963 sampai 1990. Kemudian, dengan alasan bahwa rumah tersebut adalah rumah warisan, rumah itu dijual dan mereka sekeluarga pindah ke Jalan Nanggul Ayu Nomor 1 Gang 1, Gendongan—rumah yang sampai sekarang dihidupi Fran seorang diri. Bapak-ibunya sudah lama meninggal karena sakit. Ditanya soal keberadaan istri dan anak, Fran menjawab, “Belum.”
Belum punya.
Fran adalah bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya laki-laki, enam tahun lebih tua darinya, bekerja sebagai dosen Fakultas Biologi UKSW. Jika berkeliling untuk menjaja, Fran sering mampir ke rumah kakaknya di Perumahan Lembah Hijau. Sedangkan kakak keduanya perempuan, tiga tahun lebih tua darinya, berdomisili di Surabaya. Kakak perempuannya seorang pensiunan guru sekolah Petra. Fran enggan menyebutkan nama kedua kakaknya.
“Saya gak enak sama keluarga nanti,” ucapnya.
Pekerjaan Fran tampak beda jauh dari kedua kakaknya. Mungkin latarbelakang pendidikanlah sebab perbedaan profesi mereka. Fran tidak mengecap bangku kuliah seperti kedua kakaknya. Ia mengawali pendidikannya di SD Katolik Kanisius, lantas SMP Pangudi Luhur, dan selanjutnya SMA Dharma Putra. Semua sekolah swasta tersebut ada di Salatiga.
Kerja pertama yang ia lakukan setelah tamat bersekolah adalah sebagai staf gudang di agen bus PO Santoso. Pekerjaan itu dijalaninya selama tiga tahun sejak 1980. Setelah keluar dari pekerjaan itu, ia mengandalkan keahliannya menerima reparasi barang-barang elektronik di rumahnya. Keahlian ini Fran dapat dari kursus elektonik yang pernah diikutinya sesaat. Ia memperbaiki kulkas, kompor gas, dan barang-barang elektronik lain. Penghasilan dari situ dirasanya cukup untuk menghidupi diri sendiri. Namun dari hari ke hari penghasilannya menurun. Orang kian jarang datang meminta perbaikan.
Tahun 1997 mulailah Fran berjualan susu segar. Semula 40 liter susu ia jual dengan digendong berkeliling Salatiga. Waktu itu harga susu dagangannya masih Rp 1.800. Dulu hampir semua susu yang dia bawa terjual setiap hari. Namun dari waktu ke waktu pembeli susu kian jarang. Penjualan Fran menurun. Kini ia hanya membawa sekitar 8 sampai 10 liter—atau paling banyak sekitar 20 liter—per hari.
Sekarang harga tiap liter dagangannya Rp 4.000. Dijajakannya ke rumah-rumah, warung tenda pinggir jalan, penjual gorengan, atau penjual warung lainnya. Setiap hari Fran mendapat uang bersih Rp 7.500.
Suatu hari, ia mulai menggunakan gerobak kecil untuk mengangkut jualannya. Gerobak itu didapatnya sekitar empat tahun lalu dari seorang teman. Warna gerobak itu biru dan dililiti spanduk kecil bertuliskan: “Susu Segar Sapi. Dapat diminum langsung. Atau dapat dimasak dulu. Pesanan dapat diantar ke tujuan.” Gerobak itu memiliki tiga roda kecil, satu roda depan dan dua di sisi kanan-kiri dan belakang gerobak.
Sekarang roda depan gerobak itu rusak. Fran mengatakan inilah akibat kecelakaan beberapa waktu lalu.
“Saya habis kecelakaan. Itu ditabrak motor. Tanggal 21 September kemarin. Saya jatuh terlempar, terus ini (menunjuk perut bagian kiri) luka dalem gak tahu kena apanya. Gerobak saya kena juga, rodanya kemarin itu jadi angka delapan,” Fran berkisah dengan tersenyum.
Rodanya sempat ia perbaiki, namun setelah beberapa kali peleknya rusak lagi. Memang besi roda itu telah bengkok. Karena itu, selama sekitar sepuluh hari Fran terpaksa mengganti gerobaknya dengan sebuah tas kain besar. Tas kain yang bagian dalamnya ia lapisi plastik ini sanggup menampung sekitar 20 liter susu serta beberapa gelondong besar es batu. Tas itu ia sampirkan ke sebelah bahunya.
Selama bekerja sebagai penjual susu keliling, Fran telah empat kali kecelakaan. Dari keempat pengalaman tersebut, kecelakaan terakhir inilah yang menurutnya paling parah.
Malam saat kejadian itu berlangsung, jalan memang masih licin karena hujan. Awalnya Fran beristirahat di warung nasi goreng temannya di Jalan Dliko Indah. Saat hujan sudah agak reda, Fran melanjutkan perjalanan. Ia berjalan naik ke arah Jalan Diponegoro dengan menuntun gerobaknya perlahan. Tiba-tiba seorang laki-laki dengan motornya hilang keseimbangan dan menabraknya.
Sampai sekarang orang yang menabraknya tidak memberi ganti rugi. Sebab saat kejadian, orang itu mengaku sedang tidak membawa uang. Luka di perutnya yang cukup dalam itu dibiarkan begitu saja sampai kering dengan sendirinya. Yang ia lakukan hanya pijat untuk menghilangkan pegal-pegal akibat jatuh. Sebenarnya Fran tahu dimana tempat orang tersebut tinggal, tapi ia tak mau menagih ganti rugi ke rumahnya.
Kini Fran berjalan lagi dengan gerobaknya, tapi tanpa roda depan. Ia harus mengangkat gerobaknya agar bisa berjalan dengan tumpuan roda belakang.
Setiap hari Fran bangun pagi sekitar jam lima. Kadang ia sempatkan ke gereja terlebih dahulu baru mulai mengambil susu di peternak daerah Ledok. Setelah itu dia kembali ke rumah untuk bersiap.
Sekitar 12 kilometer ia tempuh setiap hari untuk menjajakan susu segar. Dari Gendongan ia berjalan menuju Wahid, Nanggulan, Kalipengging, Jenderal Sudirman, Jalan Dieng, Jalan Semeru, Jalan Merapi, Jalan Merbabu, Sukowati, Tanjung, Jalan Kemuning, Pemotongan, Pungkursari, Margosari, Diponegoro, kemudian masuk ke daerah Kemiri. Setelah berputar-putar di sana, ia kembali menelusuri Jalan Diponegoro, lalu masuk ke Merdeka Utara, Merdeka Selatan, Perumahan Lembah Hijau, Sehati, Kotabaru, dan kembali lagi ke Jalan Diponegoro. Itulah rute yang biasa dia lewati setiap hari. Dari pagi hingga malam hari. Fran biasa tiba di rumah larut malam, sekitar pukul sebelas atau duabelas.
Di sepanjang jalan, banyak orang dia temui dan akhirnya mengisi kehidupannya. Beberapa tempat ia singgahi untuk beristirahat dan mengobrol dengan mereka yang dikenal. Salah satunya warung Natasha di Kemiri 1. Warung ini pasti ia singgahi sekali sehari untuk makan. Fran hanya makan sekali sehari.
“Bapak tidak capek keliling Salatiga jalan kaki seperti ini? Dari pagi sampai malem, capek Pak?”
Si penjual susu segar ini hanya tersenyum.
“Kenapa milih jualan susu, Pak?”
Dan didapati jawaban yang sama, senyum.
Prinsip hidup Fran adalah, “Pokoknya kerja, jangan minta dari orang lain.” Itu menjadi semangat Fran terus bekerja untuk melanjutkan hidup, tanpa bergantung pada siapapun.

Penulis :

Saturday, 23 June 2012

Merry Meriana : Mencapai Mimpi Sejuta Dollar

16:39
Untuk memaksimalkan waktu yang kita punya, ada 3 hal yang perlu kita lakukan:
1. Partisipasi
2. Pikiran Terbuka (Open Mind)
Our Mind and Our body are connected. Kalau anda ingin membuka masa depan Anda, mulailah dengan membuka pikiran Anda. Untuk membuka pikiran Anda, mulailah dengan membuka sikap duduk Anda.
3. Action
It’s not about what you know, but about what you do with what you know
  • Untuk mengubah diri kita, kita perlu tahu apa yang ingin kita ubah.
THERE IS NO GROW IN COMFORT ZONE, AND THERE IS NO COMFORT IN GROW ZONE
  • Penting untuk mempunyai mimpi, tetapi penting juga untuk mengetahui alasan terkait mimpi kita itu.
Misalnya: Saya ingin meraih kebebasan finansial sebelum usia 30 tahun karena saya ingin membahagiakan orang tua saya sebelum mereka lanjut usia
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan impian:
1. DECIDE (Keputusan)
Seperti Apa Kita Lahir? – TAKDIR
Seperti Apa kita Tumbuh? – PROSES
Seperti Apa kita Tua Nanti? – KEPUTUSAN
  • Apabila Anda ingin mengubah hidup Anda, Ubah cara pandang Anda terhadap hidup
IMPOSSIBLE = I M POSSIBLE
OPPORTUNITY IS NO WHERE = OPPORTUNITY IS NOW HERE
Jangan bilang SAYA HANYA, TAPI JUSTRU KARENA
2. DISCIPLINE (Disiplin)
Tidak ada jalan pintas untuk menuju sukses. Anda harus berani membayar harga untuk kesuksesan itu.
3. DESIRE (Hasrat)
  • Alasan tidak action-action ? TAKUT GAGAL
Lebih baik saya gagal dalam perjuangan meraih cita-cita, daripada saya gagal tanpa pernah tau rasanya berjuang
Sekecil apapun langkah kita, asal terus melangkah pasti akan sampai tujuan juga.
Ketabahan, Kegigihan, dan Kekuatan Iman penting dalam proses untuk mencapai sebuah impian
5 Langkah untuk memiliki KEGIGIHAN:
1. Mimpi yang jelas
2. Rencana yang pasti
3. Tindakan yang berkesinambungan
4. Pikiran yang tertutup dari keputusasaan
5. Dukungan yang mendorong
untuk mencapai impian dan kesuksesan salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah KEKUATAN IMAN.
TANPA BANTUAN DAN DORONGAN DARI TUHAN MAKA APAPUN YANG KITA LAKUKAN TIDAK AKAN MENJADI APAPUN APABILA TUHAN TIDAK MEMBANTU KITA MENGABULKAN PERMOHONAN KITA MELALUI DOA
Kekuatan Iman sangat berpengaruh dalam membentuk ketabahan seseorang.
3 Pertanyaan penting dalam hidup :
1. DIMANA Anda tinggal
2. KEMANA Anda pergi
3. BAGAIMANA Anda bisa kesana
APA ANDA BISA ?
SAYA PASTI BISA
Saya percaya saya bisa
Mencapai impian, saya bisa
Mengambil tindakan, saya bisa
Bangkit dari kegagalan, saya bisa
saya bisa dengan doa
saya bisa dengan usaha
saya harus bisa untuk keluarga,bangsa,dan negara
SAYA PASTI BISA
kita harus bangga menjadi ANAK INDONESIA
Merry Riana:
"You can take me out from Indonesia, but you can’t take Indonesia out from me"
Ir Soekarno:
"Seribu orang berjiwa tua hanya dapat bermimpi, satu orang berjiwa muda dapat mengubah dunia"

Friday, 1 June 2012

Pelajar POssible

02:24

Haduh, baru merasakan penderitaan yang berat nih kroakers, saya bingung masuk universitas. Munkin bagi temen-temen yang lagi berjuang SNMPTN tulis hal dibawah ini mungkin bisa membirikan "bara API !".

Apa Yang Tidak Mungkin Dicapai?

Meskipun Anda mungkin sudah ribuan kali mendengar kata ini, “Nothing is Impossible”, tetapi banyak diantara kita yang masih tidak menerapkan kata-kata tersebut dalam hidup. Kita sering kali membuat batasan yang menghentikan kita dalam mencapai impian-impian kita. Bahkan kita sering sekali meyakinkan diri kita bahwa kita tidak sanggup dan tidak pantas untuk sukses,seakan-akan sukses itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan dan ingin dijauhi. Atau mungkin kita mempercayai perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa sesuatu itu tidak mungkin dilakukan. Dan lebih parah kita menelan perkataan itu mentah-mentah tanpa pernah membuktikan kebenarannya.

Anda pasti sering mendengar orang berkata, “itu tidak mungkin, sekarang kan lagi krisis”, “saya saja sudah mati-matian dan gagal, apalagi Anda”, “belum pernah ada yang berhasil”, “tidak mudah melakukan ini, sulit sekali” dan banyak perkataan negatif lainnya yang berusaha menjatuhkan Anda. Sayangnya, banyak orang-orang yang menerima itu sebagai kenyataan tanpa pernah membuktikannya. Mereka membenarkan itu semua. Itu semua dijadikan alasan untuk tidak berjuang untuk meraih kesuksesan. Mereka percaya dengan itu semua dan tetap berpegang teguh dengan keyakinan yang sangat membatasi tersebut. Mereka akan berjuang keras untuk mempertahankan keyakinan itu tidak peduli apakah keyakinan mereka mendorong atau bahkan menjauhkan mereka dari kesuksesan.

Tidak percaya, mari saya berikan Anda fakta dan bukti kuat yang akan menghancurkan semua mitos tersebut.

Anda pastinya sudah kenal dengan orang terkaya di dunia bernama Bill Gates, pemilik Microsoft. Pada 1980-an, ia pernah mengatakan dan yakin bahwa sebuah komputer tidak perlu dan tidak akan memiliki memory RAM lebih dari 250 Kilobyte. Tapi lihat sekarang, rata-rata memori untuk komputer berkisar antara DDR 1 – 4 Gigabyte, bahkan ada yang melebihi itu.

Harry Andrews, seorang pelatih olimpiade Inggris pada tahun 1903 mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk berlari 1 mil tidak akan pernah lebih cepat dari 4 menit 12 detik. Lihat sekarang, rekor lama terus bertumbangan.

Dr. Lee De Forest, yang dijuluki Bapak radio menjelaskan bahwa manusia tidak akan pernah menginjak bulan tidak peduli secanggih apapun teknologi masa depan. Lihatlah sekarang, jangankan bulan, planet Mars pun sudah pernah dieksplorasi. Bahkan sekarang, manusia sudah ada yang berwisata keluar angkasa.

Lord Kelvin, Presiden Royal Society pada tahun 1895, mengatakan bahwa tidak mungkin ada mesin yang lebih berat dari udara yang dapat terbang menjelajah langit. Tetapi, berkat Wright bersaudara, apa yang dikatakannya menjadi kenangan belaka. Bahkan sekarang, muncul AirBus Super Jumbo A380 bertingkat dua dimana orang dapat menikmati fasilitas super mewah di pesawat sambil nonton TV, minum, dan tiduran di First Class Suite layaknya apartemen mewah.

Seorang ahli astronomi Mesir, Ptolemy, mengatakan bahwa Bumi adalah pusat dari tata surya. Banyak orang pada saat itu sangat percaya. Sampai mitos itu dihancurkan dan terbukti bahwa yang menjadi pusat tata surya adalah matahari.

Kenal dengan 20th Century Fox, perusahaan perfilman terkenal. Bagi Anda penggemar film hollywood, kadang-kadang Anda akan melihat logo perusahaan itu disetiap awal film yang dibuatnya. Pada tahun 1946, Darryl F. Zanuck, kepala perusahaan ini meyakini bahwa televisi tidak akan bisa mempertahankan perhatian penonton setelah 6 bulan. Artinya setelah 6 bulan, pemirsa akan menjadi bosan dan meninggalkan televisi. Tapi di zaman sekarang, televisi sudah seperti teman akrab dan telah menjadi kebutuhan penting. Tidak ada televisi rasanya dunia ini membosankan, tak ada hiburan. Di setiap rumah bahkan ada yang memiliki lebih dari 1 televisi.

Kalau disebutkan lagi satu per satu, tidak akan selesai. Dari contoh di atas dapat dijadikan pelajaran berharga bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan apa yang diyakini oleh orang-orang hebat pada masa lalu ternyata dapat keliru. Apa yang diyakini sebagai hal yang tidak mungkin pada masa lalu menjadi mungkin pada masa sekarang dan apa yang tidak mungkin di masa sekarang akan menjadi mungkin di masa depan. Tinggal masalah waktu saja untuk menghancurkan mitos dan membuktikan bahwa segala sesuatu sangat mungkin.

Sekarang, pernahkah Anda meyakini sesuatu, tapi akhirnya Anda sadar bahwa Anda keliru. Saya yakin Anda pasti sering mengalami ini. Apakah hanya karena orang mengatakan kepada Anda hal itu atau hal ini tidak mungkin, lantas Anda percaya dan yakin begitu saja. Ingatlah contoh di atas, orang-orang hebat saja bisa keliru dan salah besar. Tidak ada batasan yang dimiliki manusia. Manusia memiliki kemampuan luar biasa dan tak terbatas untuk mewujudkan apa yang kelihatannya tidak mungkin. Begitu juga dengan Anda, Anda juga memiliki sumber daya yang mengagumkan untuk meraih dan mewujudkan apapun. Tidak ada yang berhak memberitahu Anda bahwa Anda tidak bisa. Tidak ada yang tidak bisa Anda wujudkan. Anda memiliki kemampuan untuk membuktikan bahwa apa yang mereka katakan adalah salah dan keliru. Keyakinan seperti inilah yang akan melambungkan hidup Anda menuju pencapaian sukses yang luar biasa.

Sebagai penutup, ingatlah kutipan inspiratif dari Napoleon Hill, pengarang buku Think and Grow Rich.

“Who said it could not be done? And tell me what great victories does he have to his credit which qualifies him to judge what can and can't be accomplished.”

(Siapa yang mengatakan bahwa itu tak bisa dilakukan? Dan beritahu saya kemenangan besar apa yang telah dia raih yang membuatnya memenuhi syarat untuk menilai apa yang bisa dan tidak bisa dicapai)

Kehidupan

02:16

Renungan Pagi ini .......
Semakin umur kita bertambah,
Daya tahan tubuh kian lemah,
Maka kita harus selalu berbenah,
Mengoreksi hal-hal yg salah.

Hidup adalah belajar tanpa henti,
Dari lahir,dewasa sampai mati,
Telinga dibuka lebar untuk mendengar,
Hati dibuka lapang untuk belajar sabar.

Tak ada yg serba sempurna,
Tak ada pula yg serba perkasa,
Semua ada cacat & kelemahannya..

Orang menilai dari apa yg mereka lihat, bukan dari apa yg mereka ketahui.
jika air mata adalah beban,
maka senyum adalah penawarnya.

Cangkir yang penuh

02:10





Tidak semua orang sanggup membawa sebuah cangkir yang "penuh". »J.Oswald Sander«


Jangan pernah irihati terhadap orang yang kelihatannya memiliki hidup yang lebih baik dari kita, karena setiap orang memiliki sebuah kadar atau kapasitas didalam dirinya.



Ujian yang harus dimenangkan semua orang bukan hanya ujian dalam Kekurangan, tetapi juga "Kelimpahan," 



Kenapa ada orang yang tiba tiba menjadi sombong ketika hidupnya berubah menjadi lebih kaya atau lebih berhasil.


Justru kejatuhan orang percaya bukan ketika mereka hidup didalam kekurangan melainkan didalam kelimpahan.

Seperti seekor monyet, ketika ada badai menerpa dia pegang erat erat batang pohon tempat dia bersarang dan hidupnya tetap terpelihara, tetapi ketika badai berlalu, angin sepoi sepoi menerpanya, dia tertidur tanpa disadarinya dia terjatuh dari atas pohon dan mati. 

Jadi berhati hatilah, disaat badai kehidupan datang kita bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi ketika kita mulai diberkati pegangan kita kepada Tuhan sering terlepas.

Pepatah mengatakan belajar seperti padi, makin berisi makin merunduk, rendah hati meningkatkan kadar kapasitas kita

Mulai pagi ini mari minta kepada Tuhan, agar kita memiliki kerendahan hati di saat kelimpahan!

Mulailah dengan ucapan syukur kepada Tuhan, karena semua yang kita miliki berasal dari Tuhan.


Source : https://www.facebook.com/orang.orang.sukses

Friday, 27 January 2012

Mengikuti Kata Hati

17:55
"Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other peoples's thinking. Don't let the noise of other's opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary," demikian ucap Steve Jobs, pendiri Apple Computer dalam sebuah pidatonya.

[Waktu yang kamu miliki terbatas, jadi jangan menyia-nyiakannya, dengan hidup di dalam kehidupan orang lain. Jangan pula terjebak dalam dogma yang ada, yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Dan, jangan biarkan opini-opini orang lain menenggelamkan suara hatimu. Dan yang lebih penting, miliki keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisimu. Keduanya, entah bagaimana, tahu apa yang kamu cita-citakan. Yang lainnya, adalah nomor dua.]

Cuplikan pidato dari seorang yang pernah divonis akan segera mati karena penyakit ganas yang dideritanya ini adalah gambaran bagaimana suara hati, bisa sangat menentukan masa depan seorang entrepreneur.

Keberanian mengikuti suara hati dan intuisi memang kadang butuh pengorbanan yang sangat besar. Diremehkan, dicaci, hanyalah satu dari sekian pilihan buruk yang mungkin terjadi pada orang-orang yang berani melawan arus. Jika mengutip apa yang diucapkan Steve Jobs, maka hanya orang-orang yang beranilah yang mampu menepis anggapan miring tentang apa yang dilakukan. Dan, ini berlaku juga di dunia entrepreneurship.

Dalam skala nasional, hal ini pernah dialami oleh Tirto Utomo. Sang pendiri Aqua - merek yang kini merajai air minum dalam kemasan-pada waktu hendak menerjuni usahanya.

Saat itu, tak terhitung berapa banyak yang menyangsikan keseriusannya berbisnis air minum. "Mana ada air lebih mahal daripada bensin bisa laku?" cibir banyak pihak yang meremehkan kala itu. Namun, waktu membuktikan bahwa pilihan Tirto Utomo tak salah. Aqua mampu menjelma menjadi merek air minum paling laris di Indonesia.

Hal senada dialami pula oleh Sosrodjojo, sang pelopor teh dalam kemasan botol, Sosro. Ketika akan membuat teh botol, banyak yang meragukan idenya dan bahkan ada yang mengecapnya gila. Tapi, ia bergeming dengan ide tersebut. Sejarah mencatat, Sosro menjadi merek yang melegenda hingga kini. Inilah gambaran betapa mengikuti suara hati ternyata merupakan pilihan yang (bisa) berbuah manis.

Suara Hati, Lentera Jiwa

Lantas, bagaimana sebenarnya kontek panggilan suara hati ini dalam dunia entrepreneurship? Sejarah mencatat beberapa orang sukses dalam mengikuti suara hatinya. Sang taipan pendiri Microsoft Bill Gates memilih mengikuti panggilan jiwanya, dan kemudian meninggalkan bangku kuliahnya di Harvard, untuk mengembangkan Microsoft.

Namun, jika ditilik dari apa yang dilakukan oleh para entrepreneur sukses tersebut, sebenarnya bukan melulu masalah panggilan jiwa yang menjadikan mereka sukses. Keyakinan dan komitmen kuat atas apa yang mereka lakukan yang telah membuka jalan sukses tersebut. Dalam hal ini, maka suara hati telah menjadi pendorong yang sangat kuat sehingga mereka mampu berjuang habis-habisan untuk mencapai impiannya.

Source: AndrieWongso

Wednesday, 25 January 2012

Fokus !

20:30
Orang Italia memiliki pepatah yang sangat bagus, bunyinya: “Often, he who does too much does too little.” Terjemahan bebasnya kira-kira begini: Seseorang yang mengerjakan terlalu banyak (tidak fokus), biasanya mendapatkan hasil yang sangat sedikit.
Senada dengan itu orang terkaya dunia, Bill Gates juga pernah berucap “My success, part of it certainly, is that I have focused on a few things.” Jadi Bill Gates berbagi ilmu, bahwa ternyata ia berhasil menjadi orang terkaya dunia karena dari awal perjalanan bisnisnya (Microsoft) Ia telah memutuskan untuk berfokus hanya pada beberapa hal saja, yakni hal-hal yang sesuai dengan potensi yang ia miliki, khusunya sebagai seorang creator atau pencipta suatu ide/produk.
Bayangkan bila Bill Gates, selama tiga tahun membangun Microsoft, kemudian selama dua tahun belajar dan berusaha keras menjadi seorang politikus handal, lalu dua tahun kemudian berusaha menolong anak-anak yatim dengan bekerja di World-Vision. Dan tiga tahun kemudian, ia memulai bisnis baru dalam bidang properti.
Sudah pasti, hasil yang didapatkannya akan sangat jauh dari yang ia miliki saat ini. Bisa jadi, ia akan dikenal sebagai pecundang nomor satu dunia dan bukan orang terkaya.
Setelah mempelajari kehidupan orang-orang sukses, yaitu orang-orang yang telah berhasil memberikan pengaruh di jaman mereka masing-masing, saya sampai pada suatu kesimpulan: “Salah satu alasan terbesar kegagalan seseorang adalah hilangnya fokus dalam usaha atau pekerjaanya.” Nyatanya, terlalu banyak orang yang berubah usaha, profesi atau pekerjaan semudah berubahnya arah angin. Tidak heran bila mereka selalu kecewa dengan hasil yang mereka dapatkan.
Sekarang, coba Anda amati orang-orang yang ada di sekitar Anda, mungkin saudara atau seorang teman. Berapa orang yang konsisten atau fokus mengerjakan sesuatu dengan kualitas terbaik selama lima tahun terakhir, dan berapa orang yang sudah berpindah profesi atau pekerjaan? Kemudian bandingkan tingkat kesuksesan dan kebahagiaan kedua kelompok tersebut. Saya yakin, orang yang fokus pastilah lebih sukses dan lebih bahagia. Pasti!
Namun perhatikan, supaya tidak salah menyimpulkan, perlu diingat bahwa perbandingan di atas, harus dilakukan “apple to apple.” Artinya bandingkan orang-orang dengan tingkat pendidikan atau jabatan yang sama. Gaji seorang Manager yang berpindah kerja setiap awal tahun tidak dapat dibandingkan dengan gaji seorang Office Boy yang telah bekerja pada sebuah perusahaan selama sepuluh tahun.
Perlu diingat juga bahwa konsep untuk berfokus pada suatu pekerjaan atau profesi tidak sama dengan menyerah atau menerima nasib. Hal yang tidak bijaksana bagi seseorang untuk bertahan pada jabatan supervisor di sebuah perusahaan keluarga selama delapan tahun, bila di perusahaan automotive besar ada kesempatan untuk menjadi Manager dengan kompensasi yang lebih tinggi. Lebih lagi bila ia lebih menyenangi industri automotive dibanding pekerjaan yang sekarang.
Jadi berpindah kerja atau profesi atau mencoba jenis usaha lain, selama beberapa kali bisa saja dibenarkan. Tujuannya jelas, yaitu mencari pekerjaan, profesi atau usaha yang lebih sesuai dengan bakat dan potensi masing-masing. Namun bila perpindahan atau perubahan itu menjadi pola jangka panjang atau kebiasaan, itulah yang akan menciptakan kegagalan tak berujung.
Menjadi Ahli
Saya sangat meyakini bahwa untuk tampil sebagai pemenang di era persaingan ini, Anda harus menjadi seorang ahli di bidang yang Anda geluti. Kebenaran ini berlaku untuk individu maupun perusahaan!
Karena itu, berusahalah sungguh-sungguh untuk mengenali potensi dan bakat terbaik Anda. Kenali pekerjaan, profesi atau bidang usaha yang Anda senangi. Kemudian, bila hal-hal yang diperlukan sudah siap, ambil langkah pertama.
Pada mulanya tidak akan mudah, namun bila Anda tekun dan sabar, dalam tahun yang ketiga Anda akan mulai memanen hasil jerih payah Anda. Kebenaran ini saya alami secara pribadi. Tahun pertama saya memulai karir sebagai Motivator & Business Trainer betul-betul sulit. Waktu itu saya masih usia 27 tahun, dengan uang dan pengalaman pas-pasan.
Ketika saya menemui beberapa senior dan pimpinan perusahaan untuk sharing visi, tidak sedikit yang menyuruh saya pulang dan mulai mencari pekerjaan. Alasan mereka selalu sama, “Eloy, kamu terlalu muda.” Bahkan ada yang lebih ekstrem, seorang wanita berkata “Eloy untuk menjadi pembicara sukses, perlu modal. Mobil mewah adalah salah satunya.” Ia berkata demikian karena ia tahu bahwa waktu itu saya tidak memiliki kendaraan.
Namun sekali lagi, dengan ketekunan dan kesabaran sukses itu akan dapat diraih. Saya telah membuktikan bahwa keraguan mereka tidak berdasar! Sama seperti ungkapan sang “kakek” bernama Charles Swindoll: “Dengan ketekunan, siput dapat mencapai bahtera.”
Sebagai penutup, renungkan tiga pertanyaan ini: (1) Ketika nama Anda disebut, apakah orang-orang membayangkan seorang yang fokus pada pekerjaan, profesi atau usahanya? (2) Ketika nama Anda disebut, apakah orang-orang membayangkan seorang yang ahli di bidangnya? (3) Ketika nama Anda disebut, apakah orang-orang membayangkan seorang yang mencitai pekerjaanya?
Mari kita berloma-lomba menjawab “ya” terhadap ketiga pertanyaan tersebut, karena itulah kunci menuju kesuksesan dan kebahagiaan tak terbatas!
Salam sukses untuk Anda!

Sunday, 11 December 2011

Elang Gumilang

22:02


 
*Elang Gumilang, Mahasiswa Bangun Perumahan untuk Orang Miskin Demi
Keseimbangan Hidup*

Selama ini banyak developer yang membangun perumahan namun hanya bisa
dijangkau oleh kalangan menengah ke atas saja. Jarang sekali developer yang
membangun perumahan yang memang dikhususkan bagi orang-orang kecil. Elang
Gumilang (22), seorang mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi
ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum kecil yang tidak memiliki
rumah. Meski bermodal pas-pasan, ia berani membangun perumahan khusus untuk
orang miskin. Apa yang mendasarinya?

Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat
lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari
itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita
melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan
kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang
Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil
duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini,
langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB.
Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan
menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah
bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60
meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan
khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang
mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.

Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh
(55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada,
yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu
rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala
sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa
rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah
mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat
lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak
kesayangan guru-gurunya.

Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor,
Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini
mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu
yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri
mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam
hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai
kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia
pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta
untuk modal kuliahnya kelak.

Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai
berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia
mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk
kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari
hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu.
Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini
tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir
Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka
khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria
pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan
cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa,
Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang
juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap
perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.

Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB
(Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB
(Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang
akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah
menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa
tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan
uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa
musibah yang dialaminya tersebut.

Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya
bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp
1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat
usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi
setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa
mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu
pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang
memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.

Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis
apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia
akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis
ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di
kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak
lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang
menggiurkan,
” paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang menggunakan
strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Ario Winarsis
sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Ario
Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di
Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Ario Winarsis
selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak
memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu melambaikan tangan setiap hari,
pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu
selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu
menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar
dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban
dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel
kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha
Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di
kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka,
jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.

Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan
lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah
proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15
juta,” ucapnya bangga.

Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang
mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di
bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke
warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan
puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke
warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang
kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan
harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga
mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya
sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.

Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari
pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk
minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa
berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis
yang tidak menggunakan otot.

Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga
Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau
kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia
patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu
sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk
mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara
profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas
Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.

Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan
hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai
marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya
hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.

Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak
suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu
Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik
keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia
mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB
hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi
yang saya cari di dunia ini?” batinnya.

Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan
jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat
itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan
oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat
istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur
saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di
Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat
bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?”
Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun
kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya.

Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan
di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai
tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu
membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani
sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih
besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.

Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya
atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang
terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal
di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi
rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh
dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di
kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya
kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai
sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya.

Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang,
kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga
kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan
terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan
sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong
untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka
ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan
Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak
punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk
patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai
membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin
berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu.
Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah
bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.

Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe
36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut
ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya
dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun,
mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.

Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya
mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap
awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi
fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam,
angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat
dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah,
kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha
(TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.

Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak
lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan
diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam
setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang
yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan)
pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang
yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada
hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen
dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan
bahkan tahunan kepada fakir miskin.

Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah
kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika
dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin.

Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan
dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua
anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia
dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal.
Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia
itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita
hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi
catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan
sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika
seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal
orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain
sebagainya.

Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan
gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa
padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari
peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika
malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid.
“Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang
berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai
mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat
Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.

Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran
yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga
tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam
halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah.
Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung
kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat
mati,” ujarnya.

Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib”
Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di
ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama
ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi
dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?,
sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi
padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.

Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah
langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan
mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah
mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya,
karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan
cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya.
Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.

Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian
tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu
pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia
tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa
wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan
dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang
anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang
merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di
hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal
di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan
Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset,
pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya.

Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta,
ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu,
terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih
luas.

Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang

Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan
mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami
hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa
biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal,
prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan
rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi
perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan
daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.

Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah
semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman,
masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman.
Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan.

Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi
Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan
100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah
ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan
meraih kemuliaan dunia serta akhirat.
*

Selama ini banyak developer yang membangun perumahan namun hanya bisa
dijangkau oleh kalangan menengah ke atas saja. Jarang sekali developer yang
membangun perumahan yang memang dikhususkan bagi orang-orang kecil. Elang
Gumilang (22), seorang mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi
ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum kecil yang tidak memiliki
rumah. Meski bermodal pas-pasan, ia berani membangun perumahan khusus untuk
orang miskin. Apa yang mendasarinya?

Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat
lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari
itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita
melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan
kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang
Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil
duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini,
langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB.
Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan
menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah
bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60
meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan
khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang
mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.

Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh
(55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada,
yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu
rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala
sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa
rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah
mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat
lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak
kesayangan guru-gurunya.

Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor,
Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini
mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu
yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri
mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam
hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai
kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia
pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta
untuk modal kuliahnya kelak.

Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai
berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia
mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk
kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari
hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu.
Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini
tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir
Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka
khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria
pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan
cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa,
Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang
juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap
perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.

Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB
(Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB
(Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang
akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah
menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa
tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan
uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa
musibah yang dialaminya tersebut.

Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya
bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp
1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat
usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi
setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa
mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu
pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang
memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.

Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis
apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia
akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis
ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di
kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak
lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang
menggiurkan,
” paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang menggunakan
strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Ario Winarsis
sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Ario
Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di
Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Ario Winarsis
selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak
memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu melambaikan tangan setiap hari,
pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu
selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu
menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar
dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban
dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel
kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha
Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di
kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka,
jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.

Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan
lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah
proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15
juta,” ucapnya bangga.

Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang
mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di
bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke
warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan
puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke
warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang
kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan
harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga
mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya
sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.

Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari
pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk
minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa
berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis
yang tidak menggunakan otot.

Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga
Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau
kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia
patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu
sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk
mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara
profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas
Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.

Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan
hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai
marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya
hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.

Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak
suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu
Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik
keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia
mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB
hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi
yang saya cari di dunia ini?” batinnya.

Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan
jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat
itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan
oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat
istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur
saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di
Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat
bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?”
Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun
kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya.

Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan
di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai
tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu
membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani
sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih
besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.

Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya
atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang
terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal
di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi
rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh
dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di
kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya
kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai
sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya.

Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang,
kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga
kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan
terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan
sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong
untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka
ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan
Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak
punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk
patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai
membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin
berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu.
Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah
bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.

Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe
36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut
ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya
dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun,
mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.

Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya
mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap
awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi
fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam,
angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat
dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah,
kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha
(TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.

Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak
lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan
diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam
setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang
yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan)
pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang
yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada
hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen
dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan
bahkan tahunan kepada fakir miskin.

Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah
kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika
dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin.

Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan
dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua
anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia
dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal.
Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia
itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita
hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi
catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan
sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika
seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal
orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain
sebagainya.

Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan
gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa
padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari
peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika
malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid.
“Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang
berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai
mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat
Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.

Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran
yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga
tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam
halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah.
Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung
kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat
mati,” ujarnya.

Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib”
Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di
ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama
ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi
dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?,
sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi
padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.

Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah
langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan
mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah
mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya,
karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan
cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya.
Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.

Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian
tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu
pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia
tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa
wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan
dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang
anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang
merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di
hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal
di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan
Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset,
pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya.

Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta,
ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu,
terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih
luas.

Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang

Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan
mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami
hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa
biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal,
prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan
rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi
perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan
daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.

Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah
semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman,
masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman.
Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan.

Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi
Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan
100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah
ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar