Sharing, maybe this blog can help and inspire you #7billionDollar

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, 20 March 2013

Integral Permukaan

21:42


Integral Permukaan = Integral Surface (heheheh cuma di inggrisin), cerita dulu awal mulanya saya lagi ngak ada kerjaan, tapi demen banget buat yang aneh-aneh tapi sedikit bermanfaat, akhir kata ingin berbagi tentang pelajaran kali ini, sebenarnya gambar yang asli saya dapatkan dari buku Schaum(Buku Paling Sakti). Dari namanya udah kelihatan kalau integral permukaan ya cuma mengintegralkan permukaan, kalau intergral garis ya cuma mengintegralkan garis, ya to ? .

SULTRAMEN
Saya sebenernya tidak menyangka Ultramen nancep di daerah Sultramen, di daerah sultramen tersebut dalam ruang 3 Dimensi dimisalkan memiliki persamaan F(x,y,z).  Ultramen iseng mau cari Vektor di daerah Sultramen, akhirnya dapat dicari dengan Gradien dari persamaan F(x,y,z) yang diturunkan secara parsial dalam vektor. Persamaannya menjadi :



Ternyata eh ternyata, perkalian dot product antara gradien(F) terhadap k nilainya itu bersarnya sama dengan turunan parsial (F) terhadap z. Sehingga persamaanya menjadi :


cos (sudut) merupakan sudut antara K dan #NowPlaying (Np) alias sudut normal, terlihat digambar didaerah warna merah Sultramen. Nah, dari kedua persamaan tersebut kita dapat mencari cos (sudutnya). Jangan lupa pada perkalian dotproduct tadi, nilai k besarnya sama dengan satu. Persamaannya menjadi :


Oke sip, kita sudah menemukan persamaan sudutnya, untuk menentukan integral permukaan kita  harus nego dengan sekumpulan Reletubies. Eh ternyata boleh dikontrak dari tempatnya Sultramen pindah ke tempatnya reletubies. Tapi ada syaratnya !, kalau tempat bokernya kosong (sama dengan 0) maka batas yang dipakai merupakan batas Sultramen,



tetapi biasanya di soal-soal itu sukanya pake batas di Reletubies. Oleh sebab itu, tempat bokernya penuh, sehingga tidak sama dengan nol !, maka persamaannya akan menjadi :



Sec (sudut) udah ada di persamaan tinggal di subsitusi dan kita bisa menghitung :D hehehe. Nah jika fungsinya itu merupakan fungsi kesemplit (Implisit), maka :
Bener2 harus di dingat :D.


Begitulah brow, inti utama dari integral permukaan :D, tinggal pinter2nya aja gambarnya fungsinya wkwkkw, selamat berimajinasi :D

Saturday, 23 June 2012

Arti Pendidikan di Indonesia

15:40
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya memposting tulisan Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) tentang konsep pendidikan melalui notes facebook-nya. Karena isi dari tulisan beliau sungguh menggugah, maka dalam laman ini, saya ingin berbagi kepada rekan-rekan semuanya, khususnya yang bergerak di dunia pendidikan. Semoga bermanfaat bagi kita untuk merenungi hikmahnya dan menerapkan apa yang didapat :)
Pendidikan Sebenarnya
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

                                                                                                     Source : https://indonesiamengajar.org/