Aaasudahlah

Posted by Brian on
1 Tahun kemudian, setelah saya berkuliah ditempat yang tidak saya harapkan. Setiap malam, selalu merenung "Why God ?". Sebenernya dalam 1 tahun terakir ini, kejiwaan saya ngak normal, merasa depresi apabila teringat kuliah  dan  masa depan yang saya harapkan. Ujung-ujungnya untuk menghilangkan pikiran tersebut, enggak terlalu memikirkan kuliah malah nge "game".Mau gimana lagi, mau bersosialiasi juga susah mau ngomong apa, bisa dibilang kurang friendly. Cuma penyesalan, kenapa tidak bisa memberikan yang terbaik dari yang terbaik dari yang terbaik. Mulai menyalahkan diri sendiri maupun orang lain. 

Kadang-kadang jika pas malem, buka home facebook ada beberapa teman yang kuliah diluar Salatiga atau Luar Negeri, bahagia sesuai dengan apa yang diinginkannya mulai dari kuliahnya kehidupannya selama kuliah dan lain sebagainya, yang ada cuma envy. :D mungkin nasib berkata lain , muahahaha :D. Sudah lebih dari 10 beasiswa ke Luar Negeri dan dalam Negeri yang menolak, yang lebih jengkelnya lagi ada temen dari sekolah lain yang nilainya ataupun prestasinya lebih "bawah" dibandingkan saya(*ngak nyombong :3) ketrima beasiswanya. Janji Menteri Pendidikan tak kunjung datang, "Aaasudahlah, nasib berkata lain"(radak-radak jengkel).

"BAKA !"(*bodoh !) kata seorang sensei (*guru) bahasa jepang saya. Saya masih ingat dikatakan seperti itu oleh beliau saat SMA. Dan beberapa kicauan maupun "judge" dari temen-temen terdekat yang mengatakan, ya seperti itulah. Pertama-tama kalau dikatain gitu sakit juga, tapi saya pikir-pikir, lebih baik membuat mereka bungkam atau saya yang bungkam, taruhannya cuma itu hehehe.Akhir kata sekarang ini saya  yang bungkam (kalah hehehe). Satu Tahun bungkam, sisi negative yang hanya saya terima.

Berkat kk angkatan saat malam keakraban, saya tersadar. Ya sudahlah, yang berlalu ya berlalu. Tapi kata-kata itu sulit dihilangkan.Lama-lama juga berasa nyaman disini. Ketika ada sisi positive datang, entah kenapa sisi negative selalu datang dan masa lalu selalu terungkit-ungkit. Saya memikirkan, ketika orang lain sudah membantu, tetapi diri sendiri  tidak dapat menerimanya itu sama saja "membunuh diri". 




Gambar tersebut, mungkin sangat-sangat benar, yang dapat "membantu" adalah diri saya sendiri, ditengah semua ketidakbahagiaan hidup yang saya jalani, dengan rasa iri terhadap teman saya maupun kehidupan yang memang tidak adil ini. Kata siapa adil ? sama-sama makan nasi udah usaha keras, eh malah kadang-kadang yang kerjanya cuma males-malesan dapet lebih bagus, adilkah ? . Kalau terlalu dipikir-pikir lebih dalem, akhirnya juga koplak ndase. Akhirnya selama 1 tahun ini, jawabanya "Aaasudahlah....". Iya to..? daripada dipikir berat-berat, ngak ketemu juga, kenapa ngak terealiasasi maupun sesuai dengan keinginan.  :O.

GAME OVER
"PRESS ANY KEY TO START".
Mari memulai lagi :) hidup yang bahagia muahahaha :D, tetep apply keterima atau enggak "Aasudahlah".